Acara Peringatan Hari Damai Aceh (HDA) Ke-16 Tahun 2021 di Gedung Serbaguna Stadion Harapan Bangsa

0
58

Kabardetiknews.com, Banda Aceh- Pemerintah Aceh menggelar acara peringatan hari damai Aceh MoU Helsinki ke-16 tahun 2021 (15/08/21).yang diselenggarakan oleh Badan Reintegrasi Aceh di Gedung Serbaguna Stadion Harapan Gp. Lhong Raya, Kec. Banda Raya, Kota Banda Aceh, yang dihadiri sekitar 110 orang

Kegiatan peringatan MoU Helsinky ke 16 tahun 2021 di gedung Serbaguna Stadion Harapan Bangsa Lhong Raya Banda Aceh dimulai dengan rangkaian kegiatan.Pembukaan diiringi dengan Tarian Ranup Lampuan, Pembacaan Ayat Suci Al-Quran oleh Sdr. Tgk. Fajri, Menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Menyanyikan lagu Hymne Aceh.

Tema Hari Damai Aceh ke-16 tahun 2021 ini adalah hari damai aceh menjadi bingkai perdamaian dunia, yang merupakan kilas balik sebuah fakta sejarah bahwa perdamaian aceh tercipta atas kebesaran dan keikhlasan dari semua pihak baik pemerintah republik indonesia maupun gerakan aceh merdeka untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan di aceh. Dalam rangka pelaksanaan hari damai aceh tahun 2021, bra telah melakukan koordinasi kami dengan pimpinan daerah, dengan kegiatan puncak hari damai aceh kita laksanakan pada hari ini tanggal 15 agustus 2021, pungkas Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) a.n H. Fakhrurrazi Yusuf, SE., M.Si, d

Penyerahan sertifikat tanah kepada para mantan pasukan kombantan GAM, Tapol/Napol dan masyarakat korban konflik sesuai dengan point 325 Butir MoU Helsinky, adapun yang telah berhasil disertifikasi sebanyak 2.757 Ha untuk 1.378 orang penerima dalam 2 kabupaten Yaitu Kabupaten Aceh Utara dan Pidie Jaya kemudian 1.000 Ha untuk 500 orang penerima di kabupaten Nagan Raya sedang dalam proses sertifikasi.pungkas Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA) a.n H. Fakhrurrazi Yusuf, SE., M.Si, d

Pemberian Santunan anak yatim sebanyak 200 orang, yang tersebar di Kabupaten/Kota, dan pada saat ini secara simbolis diserahkan sebanyak 7 orang.(15/08/2021)

Alhamdulillah 16 tahun yang lalu, Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka melakukan kesepakatan damai, di kota Helsinki, Finlandia.Perdamaian ini terlaksana oleh dukungan penuh masyarakat Aceh, dukungan masyarakat Indonesia
yang menginginkan suasana damai tercipta di Aceh, dan dukungan Internasional yang tidak hanya ingin
terciptanya perdamaian tetapi juga terlibat dalam membangun kembali Aceh setelah bencana Tsunami 16 tahun telah berlalu, kita menghadapi tantangan yang sangat berat, baik tantangan Internal maupun Dinamika dan kelanjutan Diplomasi dengan  Pemerintah Pusat.” Pungkas Wali Nanggroe Aceh a.n Tgk Malik Mahmud Al-Haythar, secara Virtual.

Baca Juga:  Baru Sehari Operasi Zebra, 1.137 Kendaraan di Banten Kena Tilang

Pergerakan ekonomi kita masih bergantung pada sumber APBA semata, kita mesti kelola potensi pertanian, perikanan, peternakan dengan membangun infrastruktur dan supra-struktur yang mendukung peningkatan kualitas produksi, mengolola menjadi bahan jadi, guna memenuhi kebutuhan masyarakat Aceh.”Pungkas Wali Nanggroe Aceh a.n Tgk Malik Mahmud Al-Haythar, secara Virtual.

Tantangan Damai Aceh selama 16 tahun ini juga  terlihat dari praktek perilaku politik yang korup, perilaku politik yang menghalalkan segala cara, perilaku yang mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok yang akhirnya sangat merugikan  kepetingan masyarakat dan kohesi sosial masyarakat Kita.”Pungkas Wali Nanggroe Aceh a.n Tgk Malik Mahmud Al-Haythar, secara Virtual.

Tantangan Damai Aceh lainnya saat ini adalah  situasi dan kondisi Pandemi Covid 19 yang nyata, kita  sedang berperang dengan ‘musuh’ yang ganas dan tidak terlihat, Virus Corona-19 ini telah membunuh sanak saudara kita, orang tua dan sahabat kita,  Wabah dari Virus ini juga telah menghancurkan pertumbuhan Ekonomi masyarakat Aceh dan Bangsa indonesia serta Dunia. Selain daripada mengikuti  Protocol Kesehatan yang telah diatur oleh pemerintah,  usaha Vaksinasi adalah upaya memperkuat Immunitas Tubuh menjadi satu-satunya cara saat ini yang dapat kita peroleh, untuk menghindar dari wabah yang telah mendunia ini, Problematika Ekonomi menjadi komponen utama yang harus segera dicari jalan keluar oleh setiap pemangku kepentingan di Aceh, problematika ini  dapat meruntuhkan kepercayaan diri dan membuat masyarakat terpecah belah, selanjutnya akan berpotensi mengganggu Damai Aceh yang telah kita nikmati selama 16 tahun ini.”Pungkas Wali Nanggroe Aceh a.n Tgk Malik Mahmud Al-Haythar, secara Virtual.

Di dalam kegiatan itupun Gubernur Aceh a.n  Ir. H. Nova Iriansyah, M.T, menyampaikan sambutanya. “Momentum damai Aceh yang diawali denganPenandatanganan Naskah Memorandum Of Understanding (MoU) antara Gerakan Aceh Merdeka dengan PemerintahIndonesia di Helsnki-Finlandia 16 tahun silam, merupakan perjuangan yang sangat melelahkan, Bahkan, menjadibagian yang tak terpisahkan dari perjalanan sejarah masyarakat Aceh dan sekaligus menjadi fondasi dalam rangka menggapai kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.”

Baca Juga:  Menhan Prabowo-Mendikbud Nadiem Hadiri Sidang Kabinet Perdana

Selama 16 tahun perdamaian, Aceh telah banyak mengal ami kemajuan di berbagai sektor pembangunan, baik sektor ekonomi , pendidikan, infrastruktur maupun sektor-sektor penting lainnya. Maka sangat tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa perdamaian benar-benar men jadi fondasi dalam mensuk seskan pembangunan menu ju Aceh yangbermartabat, walaupun kita menyadari bahwa dalam perjalanan 16 tahun damai Aceh, banyak tantangan yang kita hadapi,terutama sejak dua tahun terakhir ketika pandemi COVID-19 melanda dunia termasuk Aceh, perlu saya garis bawahi bahwa, untuk meresponstantangan yang semakin meningkat dalam usaha menjagaperdamaian Aceh pada situasi COVID-19 saat ini, maka aspek bina damai perlu menjadi bagian dalam upayapenanggulangan pandemi secara komprehensif.Karenanya kami berharap, pemangku kepentingan dan seluruh elemen masyarakat perlu memastikan partisipasi inklusif dalam upaya bina damai, dan yang harusdiprioritaskan adalah menciptakan lingkungan masyarakat yang kondusif untuk mendukung upaya bina damai di masa pandemi ini,Saya menegaskan bahwa upaya bina damai membutuhkan sinergi antara seluruh elemen dalam sistempemerintahan, dalam hal ini Badan Reintegrasi Aceh dan SKPA terkait lainnya harus mampu mengintegrasikanpendekatan yang terbaik terhadap permasalahan yang terjadi dalam upaya penanganan pandemi di masa damai, Oleh karena itu penting untuk mengoptimalisasikan penggunaan sumber daya yang ada dalam upaya bina damai di tengah meningkatnya ketidakpastian yang.”

Sebagai bagian akhir sambutan ini sekali lagi kami mengucapkan terimakasih dan apresiasi mendalam kepada seluruh tokoh perdamaian Aceh, baik nasional maupun di tingkat lokal , atas perjuangan dan pengorbanan mewujudkan perdamaian di Aceh, dan demi keberlanjutan program pembangunan, kami mengajak seluruh komponen masyarakat aceh, agar terus bersatu padu, bahu membahu menjaga perdamaian dengan kebersamaan.”

Editor : Erlangga

5/5 (2)

Berikan rating untuk post ini ?

Baca Juga:  Kongres 212 Angkat Habib Rizieq Jadi Imam Besar Umat Indonesia